Merah dan Hitam: Wednesday, January 28, 2009

Your thirsty lips
Appear to be frozen
Expose them


"Tsk."
Lo bego.
Ren menatap langit kelam dengan pandangan yang sama kelamnya.

Air.
Air menetes satu demi satu dari langit. Seperti langit yang sedang menangis, seperti surga yang mengutuk hari ini.


Overflowing tears
Drip from radiance
They keep following me


Ren terdiam bisu, tetes-tetes air perlahan mengalir di mukanya.
Entah.
Entah itu adalah tangisannya, atau hanya tetesan hujan yang jatuh ke wajahnya.
Tidak ada yang tahu.

Ya, tidak ada yang tahu selain Ren.

Sesosok wanita.
Matahari,
Ya, wanita itu bagaikan matahari.
Wanita itulah penerang Ren.
Membawa sinar ke dalam kegelapan, membawa harapan.

There weren't enough
Safe places like that
I was seeking for you
Our fingers touched each other
Transmitting and gathering up
Only heartening feelings


Suara tawa samar-samar terdengar
"Hmph. Mengapa wajahmu kusam seperti itu?"
"Ya. Ini memang diriku."
"Tapi kurasa tidak. Sikapmu tidak mencerminkan penampilanmu."
"... Penampilan?"
"Ya, penampilan. Rambut merahmu, mata merahmu. Kau harusnya lebih... merah?"
Tawa kembali terdengar, tawa yang berbeda.
"Aku pikir aku sudah cukup merah. Merah cocok dengan hitam kan?"
Tawa sarkastik.
"Tapi hitam hanya mengotori."
"Aku sendiri hanyalah dosa."
"Ren..."

Wanita itu membawa matahari.
Ya, matahari yang menyinari,
Menyinari dan menarik,
Menariknya ke dalam kegelapan yang paling dalam,
hanya sekejap.

Surrounded by pulsing
I decided to uncover my
Hidden desires
But even so
My memories and
Your lost face still
Remain as they are


"Kau bodoh Ren."
"Ya, aku memang bodoh."
"Dia hanya lebih menarikmu ke dalam kegelapan."
"Tidak."
"Ya, tidak. Dia menyeretmu kedalamnya."
"Tidak."
"Jangan menyangkal Ren! Akuilah saja, dialah yang membuatmu semakin terpuruk!"
"DIAM!"
"Tidak. Aku tidak akan diam. Aku tidak mau melihat adikku sendiri. Oh-adikku yang malang menderita seperti ini. Hanya karena wanita terkutuk itu."
"DIAAAAM!"
"Dia sudah pergi Ren. Itu bukti. Dia meninggalkanmu."
"T...tidak.. Itu... bo..bohong! Itu dusta!"
"Jangan menangis Ren. Jangan menangis karenanya. Wanita itu tidak pantas untukmu."
"Tapi aku mencintainya."
"Lalu? Dia meninggalkanmu, sendiri."
"Pergi. Kau hanya mengotorinya lebih jauh lagi."
"Tapi-"
"Pergi. Biarkan aku sendiri."

Hitam.

"Hei Ren."
"Hm?"
"Bagaimana kalau aku... aku pergi?"
"Tidak akan."
"Ya, tapi kalau seandainya begitu?"
"Maka aku akan mengejarmu. Sampai ke neraka sekalipun. Kemanapun kau pergi."
"Tapi tidak Ren."
"Tidak?"
"Berjanjilah padaku, satu hal saja."
"Tidak. Pasti ini ulah konyolmu lagi, aku tidak akan terjebak olehmu."
Wanita itu tertawa.
"Tentu saja tidak Ren. Aku serius."
"..."
"Ya?"
"Baiklah. Satu. Hanya satu."
"Tentu saja." senyum wanita itu mengembang.
"Lalu?"
"Berjanjilah padaku. Seandainya aku, aku pergi... Kau tidak akan mengejarku... Kemanapun aku pergi."
"TIDAK! Hanya satu hal itu saja yang tidak aku bisa janjikan denganmu!"
"Tapi Ren... Aku tidak mau kamu menderita karenaku."
"Bukankah itu malah lebih membuatku menderita! Aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpamu."
"Humans wither, Ren. Suatu saat... Ya, suatu saat kita pasti akan berpisah..."
"Tidak. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tidak. Kaulah cahayaku."
"Jangan menangis Ren. Tersenyumlah, tersenyumlah untukku."
"..."
"Aku percaya Ren. Percaya kalau kau akan bisa hidup tanpaku. Kau akan bisa menemukan cahayamu."
"Tidak. Kaulah satu-satunya cahayaku."
"Tapi Ren-"
"Baiklah. Aku berjanji. Tapi kaulah cahayaku satu-satunya. Kaulah pembawa 'merah' dalam hidupku. Kalau kau hilang, maka 'merah' itu akan juga pudar. Hilang ditelan 'hitam'."
"Tidak Ren! Aku tidak mau kamu menjadi seperti itu!"
"Lalu apa? Apa yang bisa kuperbuat tanpamu? Biarlah kupasang topeng. Biarlah aku bisu. Tanpamu dunia hanyalah kebohongan."
"Aku tidak akan meninggalkanmu Ren. Tidak akan pernah."
"..."
"Hati. Ingatan. Aku akan selalu ada di lubuk hatimu paling dalam. Aku akan selalu berada di dalam ingatanmu, Ren. Aku akan selalu hidup di dalamnya, memelukmu dengan kuat."
"Tapi kau tidak bisa muncul di depanku. Aku tidak akan bisa memelukmu."
"Ren... manusia pasti akan pergi. Siklus itu tidaka akan pernah berhenti."
"Lalu apa?! Apa yang harus kuperbuat tanpamu? APA?"
"Hidup. Teruslah hidup demi aku Ren. Berjanjilah kepadaku."
"Cukup. Aku tidak sanggup melakukannya."
"Kamu sanggup. Kamu kuat Ren."
"Kuat karnamu."
"Ren! Jangan pergi!"
"..."

...

Malam itu... juga sama akan hari ini.
Hujan menjadi saksi semuanya.
Sudah tiga puluh menit Ren berdiri, terdiam bisu dibawahnya.
"Hei." Ren tertawa sinis "Lo lihat kan? Gw akan tepati janji kita."
"Gw bakal hidup. Gw bakal mengenakan topeng 'merah' itu."

Merah milikku palsu.
Semuanya karnamu.
Hitam menguasaiku.


Forever within the darkness
Like crimson, swaying embers
Even in armor-clad hearts
Smouldering thoughts do not go out


---


Well, saia sedang gloomy =A= entah kenapa pingin buat fanfict kelam seperti ini modelnya. Haha... *tertawa garing*
Anyways, err. Saia tau fanfict ini membingungkan. Karena ada banyak 'flashbacks'nya.
Jadinya yah, agak pusing mana yang 'sekarang' dan mana yang 'dulu'. Lalu yang mana artinya 'pergi'.
Well, it's up to you guys. Kalian mendefinisikan 'pergi' yang mereka bicarakan seperti apa.
Anyways, credit for the english writings from a song entitled Strength and Aka to Kuro.
Comment please~

Labels:

readers
credits: 1 2 copyright © a little memory
"♫Insert song title here!"
-